Vonny Olivia Djumadi

*I stoped explains myself when i realize people only understand from their level of perception* Belajar, belajar, belajar.. Hidup adalah pembelajaran dan kita ...

Selengkapnya
Jangan Halangi Tetes Air Mataku!!!
Dok.pribadi

Jangan Halangi Tetes Air Mataku!!!

"Untuk menghadapi rasa takut, kita acapkali harus menghadapi rasa takut itu dengan menantangnya lebih keras dari kemampuan kita!". (Anonymous)

Berulang kali mensugesti fikiran dan alam bawah sadar saya untuk bisa menghadapi trauma saya akan salah satu Rumah sakit dimana tersimpan tebal kenangan pahit saya memperjuangkan hidup saya bertarung dengan sakit yang saya pernah derita. Mengulanginya setelah 20 tahun berlalu , dan hal serupa menimpa putri saya saat ini. Merupakan pelajaran hidup yang sangat mengejutkan bagi saya.

Siap atau tidak ketika Allah menurunkan takdirNya pada hidup kita, tidak sedikitpun kita harus mundur dan menyerah. Berjuang, berdoa, berupaya sekuat kemampuan, bahkan lebih keras dari kegagalan yang menimpa berkali kali.

Sudah 5 bulan lebih putri saya jatuh sakit, dan keadaannya turun naik saja (auto imune juga adanya cairan didlm otak terindikasi sebagai SOL/Tumor ) dan beberapa Minggu ini sering kehilangan memori jangka pendeknya, menyebabkan saya awalnya yang hampir setengah 'gila' ketakutan lantas menyadari bahwa saya harus dalam batas maksimal "kewarasan" saya. Ditengah trauma yang sangat mengganggu saat harus mendampingi putri saya di rumah sakit tersebut, saya harus serta merta bertarung dengan rasa takut tersebut, dan harus memenangkannya demi anak saya. Serangan panik, pun tak lagi saya hiraukan, saya harus kuat. Jika saya lemah maka putri kecil saya akan beribu kali lebih lemah lagi.

Maka ketika segala ketakutan disandarkan hanya pada robbul Izzati , tiada sesuatu pun yang dapat membuat kita waswas dan merasa kuatir.

La Tahzan...

Jangan bersedih... Hanya Allah satu satunya tumpuan harapan disaat segala asa mulai punah

La Taghdob...

Jangan Marah...

Kembalikan semua kepadaNya, mohon ampun dan senantiasa lah mengingat bahwa apapun musibah yang saat ini terjadi dalam hidup kita Allah turunkan sebagai hisab atas dosa dosa kita sebelumnya. Allah tahu kita takan mampu dihisab dihari akhir , maka Allah segerakan hisab atas dosa dosa kita didunia ini. Maka ketika musibah ini terjadi pada saya melalui perantaraan putri kecil saya, saya meyakini bahwa Putri kecil saya Allah anugerahkan sebagai hambaNya yang terpilih dan istimewa yang semoga Allah berikan kesabaran Ayub alaihis salam dan keimanan kuat didalam kehidupannya.

La Tahimu...

Jangan Lemah....

Jadikanlah semua sebagai uji ketahanan hidup yang akan menjadi pelajaran berharga dikemudian hari, bukankah Allah senantiasa menjanjikan kemudahan ditengah kesulitan yang Dia berikan? ( QS : annsrh :5-6 ).

Qowiy Lillahi Ta'ala...

Semua karena Allah Taala... Bahwa tidak ada satu daun pun yang gugur dimuka bumi yang luput dari kuasaNya.

Menatapnya tak berdaya, sebagai manusia biasa terlebih seorang ibu yang melahirkan dan merawat nya, hati saya patah, berapa banyak bulir air mata saya habiskan ditiap sujud sujud panjang saya padaNya.

Berdialog denganNya, meminta ampunan atas segala khilaf dan dosa kami (saya juga suami) , saya pun bukan malaikat bersayap yang tak melibatkan perasaan saya , bahkan ketika banyaknya suara mengatakan saya harus kuat, jangan lemah, jangan cengeng, jangan berkeluh kesah, ditengah ujian yang saya jalani,, miris saya tersenyum.

Saya cuma manusia biasa, bukan bidadari tak bersayap yang tidak memiliki rasa, saya hanya seorang ibu yang hati saya remuk redam mendengar dan menatap tangis kesakitan juga zikir yang dilantunkannya sebagai penahan rasa sakit yang acap kali dirasakannya saat serangan mendadak dikepalanya ,serupa dengung ratusan lebah.

Ada skala ketegaran didalam diri tiap orangtua dalam menjalani semua ujian juga musibahnya, dan hanya orang orang yang telah benar benar merasakan kepahitan yang serupa lainnya yang tahu rasanya juga keberadaan dari skala ketegaran tersebut. Maka,,, jangan halangi tangis saya!!! Biarkan airmata ini mengalir. Bukan karena saya lemah dan tidak mampu. Tapi karena airmata yang saya teteskan adalah yang saya azamkan sebagai saksi di Yaumil akhir nanti sebagai saksi perjuangan kami menjaga amanah dariNya sepenuh jiwa raga kami.

"Sebab kadang airmata bukanlah tanda seseorang tidak menerima kenyataan hidup yang menimpa, melainkan sebagai pernyataan seberapa tangguh dia menjalani segala uji itu dengan belajar ikhlas dan tahu diri atas Qodarullah dariNya".

Merekatkan kepingan hati,

12 Maret 2018

Jakarta Selatan.

(Lobby Ruang Bougenville)

Hanya boleh mendampingi mu disini nak, kuatlah!!

Vonny Olivia Djumadi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali