Vonny Olivia Djumadi

*I stoped explains myself when i realize people only understand from their level of perception* Belajar, belajar, belajar.. Hidup adalah pembelajaran dan kita ...

Selengkapnya
Wasiat Terakhir
Dok.pribadi

Wasiat Terakhir

Sayup sayup kudengar lagu yang dilantunkan oleh penyanyi wanita Barbra Streisand berjudul The way we were

Mem'ries,
Light the corners of my mind
Misty water-colored memories
Of the way we were
Scattered pictures,
Of the smiles we left behind
Smiles we gave to one another
For the way we were
Can it be that it was all so simple then?
Or has time re-written every line?
If we had the chance to do it all again
Tell me, would we? Could we?
Mem'ries, may be beautiful and yet
What's too painful to remember
We simply choose to forget
So it's the laughter
We will remember
Whenever we remember...
The way we were...
The way we were..

Ada rasa panas melesak disudut mata, kembali teringat kenangan yang tersimpan didalam benakku tentang sosok yang sangat kurindukan yang masih dapat kucium harum khas aroma tubuhnya, juga suara beratnya yang senantiasa mengingatkan kami untuk sholat, juga tubuh tinggi besarnya dimana kami biasa bergelantungan dikedua lengan kekarnya saat bercanda ria... Beliau adalah Papa yang semoga Allah muliakan disisiNya. Papa sosok pria penyayang keluarga yang melindungi dan tegas akan ajaran agama pada kami 7anak perempuan dan 2 anak lelakinya dimasa hidup. Kenangan akan ketegasan papa hingga saat ini membekas dan meninggalkan kekuatan yang sangat dominan pada kami yaitu jiwa pantang menyerah dan kepemimpinan yang kuat.

Papa demikian tangguh dan mengajar kami dengan sangat ketat akan aturan agama, juga memiliki selera humor yang sangat tinggi dan memberikan rasa nyaman juga aman saat disisinya. Saya ingat betul dulu papa suka mengajak kami jalan jalan dan papa akan dengan semangatnya menggendong Martha adik perempuan saya juga Donny diatas kedua bahunya sambil bercanda canda. Suara besarnya kadang menggelegar mengagetkan saat marah, namun bisa berubah menjadi suara yang amat teduh saat melantunkan ayat ayat suci Alquran. Papa pernah bilang tidak ada keutamaan sedikitpun disaat kita bisa menguasai berbagai bahasa di dunia ini tapi kita tidak mampu membaca ayat ayat Alqur'an dengan sempurna dan benar. Itulah mengapa papa selalu memanggil guru private bagi kami dirumah untuk memperbaiki bacaan Qur'an kami beradik kakak.

Papa sosok lelaki yang tunduk pada mama, menyanjung mama setinggi langit, menjadikan mama satu satunya permaisuri yang dapat melemahkan sekaligus menguatkannya disaat bersamaan. Sosok romantis papa selalu diceritakan oleh mama sebagai satu satunya kenangan termanis,terdalam dan terindah baginya, hingga setelah 19tahun kepergian papa tidak dapat membuat mama menghapuskan kenangan indah tentang papa, karena hampir semua kenangan yang tersisa dari papa bagi mama hanyalah lengan indah yang baik baik saja.

Sebelum papa berpulang ujian itu menimpa keluarga besar kami, papa sakit keras berbarengan dengan saya yang juga mengalami sakit yang hampir merenggut nyawa saya (enzhapalitys) , saya ingat saat bertaruh dengan maut dan hampir menyerah dgn tubuh gemetar dan pucat menahan sakitnya, papa memegang kedua tangan saya, meletakkannya di dadanya serta membisikkan "Jangan menyerah von,, papa sanggup menggantikan semua kesakitan kamu walau harus papa tukar dengan kematian papa!". Sebesar cintanya pada kami anak anaknya, hingga tak sanggup beliau saksikan kesakitan yang saya rasakan dan beliau mengucapkan sebuah ucapan yang ternyata saat itu didengar Allah (Wallahu a'lam) sejak peristiwa itu keadaan saya membaik dan papa yang semakin menurun kondisinya disebabkan sakit radang paru parunya, tubuhnya menjadi ringkih di 6bulan sakitnya yang hanya mampu berbaring saja. Tapi satu yang menjadi ingatan paling kuat bagi kami, bahwa didalam sakitnya papa senantiasa mengucapkan Sayyidul istighfar berulang ulang kehadirat Allah AZZA Wajalla, beliau pun tak pernah meninggalkan Dhuha dan tahajud dikala sehat dan sakitnya (Ya robbana,jadikanlah papa ahli syurgaMu dibarisan penghulu Dhuha dan tahajud).

Hari itu tanggal 02 Maret 1999, Takan pernah kami lupakan.. Hari dimana papa harus berpulang selamanya meninggalkan kami 9orang anak anaknya setelah 3malam sebelum kepergiannya meninggalkan wasiat sebuah doa yaitu sebaik baik doa yang dapat menggugurkan dosa dosa juga menggetarkan ArasyNya, yaitu wasiat Sayyidul Istighfar yang beliau amanat kan untuk senantiasa kami baca dengan sungguh sungguh disaat kami menunduk,merunduk memohon ampunan padaNya. Sebab "Dikala banyaknya hajat dan tak mampu kau munajat kan dalam doa doa pada robbMu maka istighfar (permohonan ampun) lah yang akan membukakan segala pintu rejekinya dariNya".

Papa,,, suaramu masih terdengar disanubariku, guratan wajah tegasnya masih terukir jelas dalam ingatanku, kasih sayang juga canda dan keteguhan mu dalam menjalankan Syariat agama pun masih kami jadikan panutan kebaikan yang kami dapat lakukan untuk mendulang pahala bagimu. Semoga segala ilmu yang telah engkau berikan pada kami menjadi wasilah keberkahan lapangnya kuburmu dan ringan segala siksa dariNya padamu. Ya robbana haramkan lah wajah kedua orangtuanya kami dari api nerakaMu.

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

"Allahumma anta robbii laa ilaaha illaa anta, kholaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbii, faghfirlii fainnahuu laa yaghfirudz dzunuuba illa anta" Terjemahan Bahasa Indonesia Sayyidul Istighfar “Ya Allah, Engkaulah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau sudah menciptakanku, dan aku adalah hamba-Mu. Aku akan berusaha selalu ta’at kepada-Mu, sekuat tenagaku Yaa Allah. Aku berlindung kepada-Mu, dari keburukan yg kuperbuat. Kuakui segala nikmat yang Engkau berikan padaku, dan kuakui pula keburukan-keburukan dan dosa-dosaku. Maka ampunilah aku ya Allah. Sesungguhnya tidak ada yg bisa mengampuni dosa kecuali Engkau.”

Dibawah rintik hujan,

Waringin Jaya - Bojong Gede

Vonny Olivia Djumadi

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Salam literasi pak Edi Prasetyo.. Alhamdulillah ala kulli haal semoga bermanfaat

11 Mar
Balas

Alhamdulillah ala kulli haal... Barakallahu fiikum pak Mulya salam literasi

12 Mar
Balas

Wah tulisannya lengkap sekali dan mengharukan, Bu. Ikut hanyut sy membacanya.

11 Mar
Balas

Luar biasa bu, sarat akan hikmah membacanya, sangat religius, sangat menginspirasi, terima kasih

11 Mar
Balas

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali